Jumat, 12 September 2008

HUKUM WANITA KARIR DALAM TINJAUAN SYAR’I

1. Moqodimah
Segal puji bagi Allah Robb semesta alam, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rosulullah e, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti manhaj beliau sampai hari kiamat. Sungguh nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat islam dan hidayah untuk mengikuti syareat Rosululloh e, karena perkara yang di kandung oleh syareat ini berupa kebahagiaan di dunia dan ahkerat.

Tidak diragukan lagi bahwa islam datang untuk menjaga kemuliaan dan memelihara kemuliaan wanita dan menempatkanya pada tempat yang sesuai, dan islam menjauhkan wanita dari perkara yang dapat memburukan dan mencemari kemuliaannya. Islam juga telah memerintahkan kepada wanita untuk selalu menjaga kesopanan dalam pakaiannya dan mewajibkan untuk berhijab, karena dengan berhijab dirinya akan lebih terjaga dan lebih suci. Kalau kita perhatikan realita hari ini, sungguh sesuatu yang meyedihkan dan memilukan dengan apa yang di perbuat oleh sebagian kaum wanita, mereka mempertontonkan perhiasan, menampakkan keindahan tubuh mereka di hadapan para lelaki yang bukan mahhromnya, dan mereka keluar ke pasar-pasar dengan bersolek dan memakai wewangian, bercampur dengan para lelaki yang bukan mahronya.

Ini semua merupakan fitnah yang besar yang dapat menghancurkan sendi dan bangunan umat islam. Mudah-mudahan dengan tulisan ini, mampu menggugah kesadaran kita tentang hukum wanita karir yang di tinjau dari segi syareat islam, dampak positif dan negatifnya, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh umat islam.

II.Kedudukan Wanita Dalam Islam

Islam sangat menghormati dan memuliakan wanita dengan penghormatan yang sangat luhur serta mengangkat martabatnya dari keburukan dan kehinaan, dari penguburan hidup-hidup dan perlakuan buruk ke kedudukan yang mulia dan terhormat, sebab wanita menjadi ibu dan sebagai istri yang harus di perlakukan dengan lemah lembut. Seorang mu’minah yang teguh dengan ketaatannyaa, maka Allah telah menyediakan baginya seperti apa yang telah di sediakan bagi kaum mu’minin, tidak ada perbedaan dalam hal ini, sebagai mana firman Allah Ta’ala:

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”.
[QS An-Nahl: 97]

Allah Ta’ala menciptaka kaum wanita dengan susunan yang sangat berbeda dengan susunan tubuh kaum laki-laki, Allah mempersiapkan wanita untuk bekerja di dalam rumah dan sifat pekerjaan yang sesuai dengan kewanitaannya.

Di dalam hadits Rosulullah e bersabda :
Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah“.
[HR Muslim].

Islam telah menentukan kewajiban-kewajiban tersendiri bagi masing-masing laki-laki dan wanita, dan masing-masing di tuntut untuk melaksanakan perananya, sehingga dengan begitu bangunan masarakat akan sempurna baik di dalam maupun di luar rumah, laki-laki di tuntut untuk mencari nafkah, sementara wanita di tuntut untuk mendidik anak-anaknya, memberi perhatian, kasih sayang, menyusui, dan mengasuhnya.

III. Sejarah Keluarnya Wanita

Kaum Yahudi dan Nasrani, Rahib dan para Pendetanya telah berusaha menhancurkan tatanan keluarga muslim, dan usaha yang mereka gunakan untuk menhancurkannya adalah dengan merusak kaum wanita, demikian ini terjadi semenjak masuknya kaum penjajah ke negara-negara islam, kemudian usaha mereka di lanjutkan oleh Dhoimer dengan mengadakan kongres kemanusiaan pada tahun 1908, dimana pada saat itu ia menganjurkan kependetaan dan kerahiban, kepada teman-teman dan para murid-muridnya, agar mereka berusaha mengajak para wanita muslimah untuk keluar dari rumah-rumahnya dan merusak hubungan dengan suaminya, orang tua, dan anak-anaknya, dan di jelaskan olehnya ( Dhoimer ) bahwa jalan terbaik untuk menjatuhkan islam adalah dengan merusak para wanitanya. (Insklopedi wanita muslim: 1-2).

Untuk itulah musuh-musuh islam tidak segan-segan menggunakan berbagai macam media dan sarana-sarana informasi untuk menggambarkan wanita dalam wujud godaan yang paling indah, sekali waktu wanita di tampilkan dalam fose telanjang, pada waktu lain di tampilkan sebagai penari, dan pada kesempatan yang lain di tampilkan sebagai penyayi, untuk itulah mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang ada. Zumer (seorang kristen ) mengatakan: “Orang-orang kristen tidak boleh putus asa, karena di dalam hati kaum muslimin benar-benar telah berkembang kecenderungan yang cukup mencolok terhadap ilmu barat dan kebebasan wanita”.

Anna Milgan (missionsris kristen) mengatakan: “Tak ada jalan yang lebih pendek untuk merobohkan islam dari pada keluarnya wanita muslimah tanpa menutup kepala dan berpakaian tidak senonoh “. [Ensiklopedi wanita mislimah: 2]

IV. Sebab-Sebab Wanita Keluar Rumah

1. Makar Yahudi dan Nasrani dengan berdalih kebebasan Mereka kaum yahudi dan nasrani pasca abad kebangkitan industri di Eropa, tidak henti-hentinya menggembor-gemborkan kebebasan wanita. Arti kebebasan yang mereka maksudkan adalah melepaskan diri dari belenggu rumah.

Ungkapan kebebasan kemudian berkembang dan meningkat sehingga artinya menjadi keluarnya wanita dari rumahnya untuk beraktifitas persis seperti kaum laki-laki, tanpa mengindahkan struktur fisiknya dan kekuatan tubuhnya. Kaum wanita gembira dengan ke ikut-sertaannya dengan kaum pria dalam seluruh aktifitas kaum pria, mereka menuntut emansipasi dan kebebasan wanita, tragisnya kaum wanita tidak tau bahwa apa yang mereka serukan tiada lain adalah perangkap yang telah disusun oleh kaum yahudi dan nasrani.

2. Dampak ekonomi

Abul A’la Al-Maududi berkata: “diantara dampak yang di timbulkan oleh sistem kapitalis adalah wanita menjadi penghambat bagi suaminya, anak-anak menjadi beban bagi ayahnya, orang-orang menjadi induvidualisme hanya memperhatikan dirinya sendiri dan tidak memperhatikan orang lain, kondisi perekonomian menuntut setiap orang untuk bekerja mencari nafkah, sehingga lapisan masyarakat baik kaum wanita maupun laki-laki mereka harus keluar rumah untuk bekerja.

Seorang ilmuan berkebangsaan inggris Samuel Simels, dengan jujur mengatakan “sesungguhnya semua sistem yang mengatur supaya wanita sibuk bekerja di industri-industri, sekalipun hal tersebut menjanjikan kesejahteraan, akan tetapi ia akan berakibat merobohkan mahligai rumah tangga, mengoyak-ngoyak berbagai ikatan sosisal, dan merampas istri dari suaminya dan anak-anaknya. Akibatnya secara fisik sistem ini tidak menghasilkan apa-apa selain dari pada merendahkan akhlak dan moral wanita. [hukum wanita dan keluarga: 3].

3. Dangkalnya mereka terhadap nilai-nilai islam
Peyebab utama yang mendasari seorang wanita keluar rumah adalah karena mereka kurang mengerti hakekat dan peranannya dalam menciptakan generasi-generasi islam masa mendatang, sehingga hari-hari mereka di habiskan diluar rumah hanya ingin mencapai ekonomi yang makmur saja, ini semua di karenakan dangkalnya pemahaman kaum wanita mengenai nilai-nilai Ad-dien itu sendiri.

V. Dalil-Dalil Di Syareatkan Agar Wanita Tinggal Di Rumah

Allah berfirman: Artinya: “Tetaplah para wanita tinggal di dalam rumah mereka dan janganlah bertabaruj seperti orang jahiliah“. [QS Al-Ahzab: 33]

Ibnu Katsir berkata: “Tetaplah para wanita tinggal di dalam rumah, maka janganlah mereka keluar rumah kecuali ada keperluan syar’i ”. [Tafsir Ibnu Katsir: 3/450].

Imam As-Syaukani mengatakan: Sesungguhnya maksud ayat diatas adalah: “Allah memerintahkan kepada mereka (wanita) agar tinggal dan tetap di dalam rumah, dan bukanlah wanita itu sebagai penyejuk pandangan. [Tafsir Fathul Qodir:4/347].

Umar bin Khotob berkata: “Sederhanakanlah atas wanita dalam berpakaian, sesungguhnya salah seorang dari mereka apabila memiliki pakaian dan perhiasan yang bagus maka akan membuat ia senang keluar rumah”. [Fathul Qodir:4/347].

VI. Dampak Negatif Wanita Bekerja Di Luar Rumah

1. Menelantarkan putra-putrinya Mereka kurang mendapatkan kasih sayang, perawatan dan pendidikan langsung dari ibu.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “ Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia menjaga kepemimpinan itu atau melalaikannya, sehingga orang laki-laki di tanya tentang anggota keluarganya “. As-Silsillah Ahadits As-Shohihah: 1636] WHO (badan kesehatan dunia) mengatakan: “bahwa setiap anak membutuhkan pendidikan yang terus menerus dari ibunya selama tiga tahun, maka akan kita dapatkan bahwa ibu-ibu akan sibuk dengan pendidikan anak-anaknya dan tidak ada waktu bagi mereka untuk keluar dari rumahnya. [Wanita karir dalam tinjauan: 108].

2. Bercampur baur dengan laki-laki Dalam sebuah hadits Rosulullah bersabda : “ Tidaklah aku tinggalkan setelah ku nanti suatu fitnah yang lebih berbahaya dari pada wanita“. [HR Bikhori dan Muslim]

3. Para wanita yang bekerja di luar rumah, mereka pada umumnya melepaskan jilbab. Mereka sering bepergian dan memakai parfum atau make up yang dapat mengoda syahwat kaum laki-laki.

4. Wanita yang bekerja di luar rumah dapat menghilangkan sifat dan naluri keperempuannya. Hilangnya kasih sayang terhadap anak-anaknya dan tidak akan ada keharmonisan dalam rumah tangganya.

5. Membuka pintu-pintu perzinaan atau perkara-perkara yang menjurus kejurang perzinaan, karena pada hakekatnya wanita keluar rumah itu akan mengundang fitnah atas dirinya maupun orang lain. [Esiklopedi wanita muslimah: 160

VII. Syarat-syarat di Perbolehkannya Wanita Bekerja di Luar Rumah

1. Mendapatkan izin dari walinya, yaitu ayah atau suaminya untuk suatu pekerjaan yang halal, seperti menjadi tenaga pendidik para siswi atau menjadi perawat khusus wanita.

2. Tidak bercampur baur dengan laki-laki atau melakukan kholwat dengan laki-laki yang bukan mahromnya.

3. Tidak bertabarruj dan menampakan perhiasan yang dapat mengundang fitnah. Menurut Syeikh Al-Maududi, kata tabarruj bila di kaitkan dengan wanita memiliki tiga pengertian:
a. Menampakan keelokan tubuhnya dan bagian-bagian tubuh yang lain yang dapat membangkitkan birahi
b .Memamerkan pakaian dan perhiasan yang indah di hadapan kaum laki-laki yang bukan mahrom.
c. Memamerkan diri dan berjalan dengan berlenggak-lenggok di hadapan kaum laki-laki. [Al-Hijab: 290. Menurut para ulama’ bahwa tabarruj itu hukumnya adalah haram. [Ensiklopedi Wanita muslimah: 153].

4. Tidak memakai parfum yang menyengat hidung atau parfum yang bisa membangkitkan birahi.

5. Memakai hijab menurut ketentuan syar’i VIII. Kendala-Kendala Wanita Bekerja Di Luar Rumah Pekerjaan seorang wanita di luar rumah pada hakekatnya adalah siksaan bagi dirinya, walaupun hal tersebut nampaknya tidak terasa, karena seorang wanita tidak mampu bekerja atau melakukan pekerjaan sebagaimana kaum laki-laki.
Di antaranya adalah:
1. Karena haid, pada waktu haid seorang wanita harus beristirahat dan tidak boleh membawa beban yang berat agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merusak kesehatan dirinya.
2. Karena hamil, dalam kondisi tersebut seorang wanita merasakan lelah sehingga ia tidak mampu bekerja berat.
3. Karena nifas (melahirkan), dalam kondisi tersebut seorang wanita juga merasakan berbagai kesulitan dan tubuhnya merasa lemah, dia kehilangan darahnya, oleh sebab itu, dia tidak boleh di bebani pekerjaan yang memberatkan.
4. Menyusui dan merawat anak, selama dua tahun seorang ibu harus merawat bayinya, selalu menyertainya, mengurusi segala kebutuhannya, dan mendidiknya, di samping itu dia masih harus menangani pekerjaan rumah demi berlangsungnya kebahagiaan rumah tangganya, dan jika hal itu ia tinggalkan, maka ia akan menjadi bencana bagi seluruh keluerganya.
5. Susunan tubuh, tubuh seorang wanita yang hamil, melahirkan anak serta menyusuinya, pastilah sangat berbeda dengan tubuh seorang laki-laki yang tidak menaggung beban semua itu. [Ensiklopedi wanita muslimah: 165]

IX. Penutup

Demikianlah sedikit penjabaran tentang “hukum wanita karir dalam tinjauan islam”. Semoga sedikit ulasan ini bisa mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin yang ingin memperbaiki sendi-sendi keimanannya yang sudah mulai roboh akibat arus globalisasi dan hedonisme ini.

Referensi :
Al-Qur’an Al-Karim Shohih Muslim Ensiklopedi wanita muslimah Wajah dunia islam Tafsir Al-Qur’anul Ad-adzim, Ibnu Katsir, Fathul Qodir, Imam Syaukani Wanita karir dalan tinjauan Al-Qur’an dan As-sunnah Al-Hijab, Abul A’la Almaududi.

ULAMA’ DAN JILBAB

Allah berfirman:
Artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal. Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. [QS. 33:5].

Aisah ra berkata: “Allah merahmati para wanita anshor karena begitu turun ayat ini, mereka langsung memotong kain-kain mereka. Sehingga seolah-olah diatas kepala mereka ada sesuatu.”

Ummu Salamah berkata: “Setelah surat ini turun, wanita-wanita golongan Anshor kalau keluar rumah nampak di atas kepala mereka ada kain hitam yang membungkusnya.”

Abu Sholih berkata: “Ketika Nabi datang ke kota madinah. Beliau belum membangun rumah, sehingga istri Nabi saat itu jika malam hari mereka keluar rumah untuk buang hajat, padahal kadang di pinggir jalan yang mereka lewati, banyak laki-laki yang berpacaran, lalu Allah menurunkan ayat itu.”

Umar bin Khotob berkata: “Pada suatu hari ia berjalan ke pasar, di tengah keramaian pasar tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian yang tidak sopan yang teryata adalah anak pamannya, dengan sepontan Umar memukulnya tanpa berbicara terlebih dahulu sehingga suasana pasar menjadi gaduh. Wanita tersebut lalu mengadu kepada Nabi, lalu Umar di tanya oleh Rosulullah SAW. “Hai Umar mengapa kamu memukul anak perempuan pamanmu itu? Umar menjawab: “Ya Rasulullah, saya sangat marah melihat anak paman saya tadi, karena saya tadi melihatnya tidak memakai jilbab, dia seperti anak kecil, padahal dia sudah dewasa!

Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini memerintahkan wanita mu’minah bila keluar dari rumah mereka untuk suatu keperluan, agar mereka menutup wajah mereka dengan jilbab. Sehingga yang nampak hanyalah matanya saja”.

Paryataan beliau ini banyak di kutip oleh ahli tafsir diantaranya adalah Imam Al-Alusi, Imam At-Thobary, Imam As-Syaukany, Imam ibnu Katsir, Imam As-Suyuti, Imam Qurtubi, Imam Al-Qosimi dan lain-lain. M. Ali Sobuni mengatakan: “Hendaklah wanita muslimah memakai jilbab yang longgar, yang dapat menutup anggota tubuh dan perhiasannya, sehingga terhindar dari omelan orang dan hal itu agar dapat membedakan antara wanita muslimah dan wanita jahiliah.”

[Lihat Tafsir Al-Qur’anul Adhim, 3/518. Tafsir At-Thobari, 12/46. Tafsir Ruhul Ma’ani, 11/88. Tafsir Fathul Qodir, 4/38. Tafsir Al-Qosimi, 12/308]
~~~@@@~~~

SYARAT-SYARAT PAKAIAN MUSLIMAH SHOLIHAH

1. Menutup Seluruh Aurat Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Sebagian ulama berpendapat bahwa aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya.

2. Longgar Dan Tidak Ketat Tidak dibenarkan bagi seorang muslimah mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, sekalipun pakaian itu menutupi seluruh permukaan kulit anda.

3. Tidak Transparan Pakaian yang tranparan adalah pakaian orang-oarang fasik, maka seorang muslimah yang sholihah tentu akan memilih pakaian dengan bahan yang rapat dan tidak tranparan.

4. Warna Pakaian Tidak Mencolok Pakaian terbaik bagi wanita adalah dari bahan yang polos dengan warna yang teduh. Hindarilah pakain yang banyak hiasannya, baik corak yang berwarna-warni maupun yang berenda, karena akan menjadi perhatian orang lain. Hindari pula warna merah polos atau kuning polos, karena Rosulullah e tidak menyukainya.

5. Tidak Meyerupai Pakaian Laki-Laki Allah dan Rasul-Nya melaknat wanita yang meyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan, misalnya dalam berpakaian baik itu celana panjang, berkaos oblong (kecuali untuk pakaian dalam ) dan sebagainya.

6. Tidak Berparfum Rosulullah e adalah orang yang paling meyukai wewangian, namun beliau melarang wanita yang keluar rumah dengan berparfum. Wanita muslimah boleh berparfum di dalam rumah, terutama bagi seorang istri untuk menyenangkan suaminya, selama tidak ada laki-laki lain yang bukan mahromnya.

Hal-Hal Lain Yang dilarang Bagi Wanita Seputar Berpakaian dan Berhias

1. Bersanggul
2. Menyambung rambut
3. Memotong rambut kepala hingga pendek
4. Mencukur alis
5. Mencabut bulu mata
6. Memakai make-up berlebihan
7. Berpakaian dengan berlebihan
8. Dll, di luar ketentuan Syar’i.

SEPUTAR KEBAYA

Kebaya memiliki beberapa keburukan di antaranya :
1. Kebaya biasanya dibuat pas dengan ukuran dan bentuk tubuh, sehingga lekuk-lekuk tubuh orang yang mengenakannya akan tampak

2. Kebaya biasanya terbuat dari bahan tembus pandang, sehingga aurat yang mestinya ditutup rapat justru menjadi mudah di lihat

3. Kebaya biasanya berpasangan dengan :
a. Konde dan Sanggul, padahal Allah dan Rosul-Nya melaknat wanita yang bersanggul dan menyambung rambut, karena itu adalah sifat penghuni neraka.

b. Kain jarik yang dililit kuat sehingga bentuk tubuh bagian bawah terutama pinggul akan nampak semakin jelas.

c. Make-up yang berlebihan agar orang lain dapat menikmati wajah yang sudah dipoles dengan bermacam-macam alat kosmetik, padahal semestinya seorang wanita sholihah selalu menjaga wajah dari pandangan laki-laki lain yang bukan mahramnya.

SEPUTAR GAUN dan RIAS PENGANTIN

Gaun dan Rias pengantin memiliki banyak keburukan diantaranya :
1. Bahan yang berlebih-lebihan.
2. Bersanggul dan menyambung rambut.
3. Ber-make-up yang berlebihan.
4. Mencukur alis dan mencabut bulu mata.
5. Diperlihatkan di depan khalayak umum dll.

Keadaan seperti ini dapat anda lihat terutama saat para wanita berhias diri untuk menyambut tamu dalam resepsi pernikahan atau pesta lainnya.

Kepada wanita muslimah aku bertanya:

1. Apa cita-cita ahir hidup Anda ?
2. Bukankah Anda mendambakan Syurga yang didalamnya penuh dengan kenikmatan dan kedamaian ?
3. Lalu dengan apa Anda mau meraih Syurga yang indah itu ?
Apakah……
- Dengan meninggalkan sholat ?
- Dengan melupakan tugas dan kewajiban sebagai seorang wanita muslimah ?
- Atau dengan pakaian tipis dan berparfum saat keluar rumah ?
- Ooo… dengan bercelana panjang dan kaus oblong atau pakaian lain seperti laki-laki ?
-Dengan kebaya, tusuk konde, sanggul, serta kain jarik yang melilit tubuh dan wajah yang penuh dengan bahan kosmetik ?
- Dan dengan berbagai macam perbuatan yang malanggar aturan Allah dan Rosul-Nya ?
- Sudah yakinkah Anda bahwa dengan cara tersebut Anda akan mendapatkan syurga ?
-Tidak cukupkah wahyu Allah dan sunnah Rosul-Nya sebagai aturan hidup, sehingga harus mengikuti cara hidup orang-orang fasik?

"Kebenaran itu datangnya dari Rabmu, maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang menolak kebenaran itu:

"wallahu A'lamu"

MUSLIM HAKIKI DALAM PERSPEKTIF ILÂHI

Orang INA Beragama Islam Vs Orang Islam Hidup di INA
Oleh: Husain AM

Kata-kata muslim merupakan suatu kata yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut terucap dari lisan para Ulama’, cendekiawan muslim, politikus, maupun dari masyarakat pada umumnya yang lengkap dengan atribut dan ciri khas yang melekat padanya. Baik yang bernada positif maupun negative, seperti kaum terorisme, konservatif, fundamentalis, ekstrimis kanan dan lain sebagainya.

Dari stigma-stigma negatif terhadap Islam itulah yang nantinya akan merusak citra Islam dimata kaum muslimin dan orang-orang kafir yang tidak paham akan Islam yang sebenarnya. Kalau kita membaca sekilas tentang judul di atas, mungkin kita akan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kalimat di atas, sehingga tidak perlu dipermasalahkan karena pada dasarnya mereka sama, yaitu Islam.

Itulah pemikiran dan pendapat masyarakat pada umumnya. Sekilas memang benar apa yang dikatakannya tersebut. Namun kalau kita paham hakikat Islam yang sebenarnya, kita akan medapatkan titik perbedaan yang sangat mendasar (principle) antara orang Islam yang hidup di INA dengan orang INA yang beragama Islam. Dan ke-dua hal tersebut tidaklah sama, bagaikan madu dan racun.

Oleh sebab itu timbulah suatu pertanyaan; Dimanakah letak perbedaannya tersebut, Kalau memang benar-benar berbeda??? Pertanyaan seperti ini akan muncul setiap saat ketika kita mengatakan tidak sama antara OIN (orang INA beragama Islam) dengan OIS (orang Islam hidup di INA).

Untuk mejawab pertanyaan tersebut, harus dipahami terlebih dahulu tentang hakikat Islam. Ibrahim (1985) dalam mu’jamul washit mengatakan kata Islam merupakan bentuk masdar dari kata; aslama-yuslimu-islaaman yang bermakna istislaam yang berarti; berserah diri dan tunduk kepada Allah SWT. Sehingga seorang muslim (Islam) ini akan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya dan menjadikan syari’at-Nya sebagai tuntunan dan pedoman dalam menjalani kehidupan ini.
Dalam hal ini Allah menegaskan dalam surat An-Nisa’: 59.

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)
Allah juga berfirman:
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(QS. 33:36)

Dari ke-dua ayat diatas nampak jelaslah perbedaan antara OIN dan OIS. Hal ini dapat dibuktikan dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat kita (-Indonesia-) yang lebih mengedepankan hawa nafsu serta adat dan budaya mereka dari pada syaria’at Islam. Sehingga ketika mereka mendapatkan (-dalam ajaran Islam-) suatu perintah yang bertentangan dengan budaya dan adat mereka. Maka mereka akan memilih budaya warisan nenek moyang mereka dari pada syaria’at Islam yang hanif ini. Padahal Allah telah memperingatkan mereka bahwa kebanyakan dari nenek moyang mereka adalah orang-orang bodoh yang buta akan kebenaran. Dan apabila dikatakan kepada mereka:"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab:"(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk". (QS. 2:170) Selain itu Allah juga menegaskan dalam ayat yang lain: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116) Itulah kenyataannya, mereka akan memilih nenek moyang mereka dari pada Allah, padahal sudah nampak kebodohan dan kesesatan pada diri nenek moyang mereka.

Bodoh memang orang-orang yang lebih memilih nenek moyang mereka atau segala sesuatu selain dari pada Allah dan Rasul-Nya, padahal nampak jelaslah kedamaian dan keselamatan jika kita mau berpegang teguh kepada buhul Allah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara dan jika kalian berpegang teguh kepada ke-daunya maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya; al-qur’an dan sunnah”. (HR Bukhari)

Inilah yang membedakan antara OIN dengan OIS, karena orang Islam yang baik adalah dia akan lebih mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dari pada yang lainnya; tidak terkecuali Orang Tua, Anak-anak mereka atau bahkan Pemimpin-pemimpin mereka. Dan mereka (-OIS-) akan lebih mengedepankan Al-qur’an dan Hadits dari pada aturan-aturan (UU) buatan Thaghut, serta tidak mengharamkan kecuali apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak pula menghalalkan kecuali apa-apa yang dihalalkan oleh Allah.

Katakanlah:"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, (QS. 6:162)

Dan seorang muslim yang baik dia akan mengatakan:

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)

### Wallâhu A’lam Bis Showâb ###
CHARACTER BUILDING
Untuk Sebuah Cinta dan Kesuksesan
Oleh:Husain AM

Pernahkan Anda berpikir untuk menjadi orang yang sukses? menjadi orang yang kaya raya? Dan menjadi orang yang paling berpengaruh dilingkungan Anda, disegani dan dihormati?

Jawabnya adalah “ya….” !!! Karena setiap manusia pada dasarnya pasti menginginkan semua itu, kekayaan, jabatan dan kehormatan. Lumrah memang, karena keinginan itu adalah hal yang sangat manusiawi yang pasti ada dalam diri setiap orang.
Tapi pernahkan Anda berpikir lebih jauh lagi tentang aksesoris yang menghiasi kesusksesan Anda tersebut??
Seorang yang bijak tentu dia akan memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan ditimbulkan dari semua itu, apakah Dia dengan kekayaannya dan kehormatannya tersebut akan menghantarkannya kepada kemulyaannya disisi Allah atau justru dengan semua itu akan menghantarkannya ke dalam kemurkaan Allah.
Ke-dua hal inilah yang kadang terlupakan oleh sebagian orang para pemburu kekayaan dan kehormatan ini. Karena terkadang semua cara akan dilakukan untuk mewujudkan keinginannya, walaupun harus melanggar norma dan aturan yang telah Allah tetapkan. “Halal haram hantam”, itulah semboyan kehidupan yang dipakai oleh para pemburu kesuksesan ini.
Naif memang, kalau kita mengaku muslim tapi kita masih memiliki pola pikir seperti itu, menghalalkan segala cara untuk menggapai apa yang kita inginkan, sehingga al-qur’an dan as-sunnah hanyalah tinggal nama yang tidak memiliki nilai sakralitas sama sekali.
Sebagai seorang muslim tentu kita meyakini bahwa Islam adalah agama yang syumul, agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, bagaimana cara bergaul, bagaimana cara berperilaku, bagaimana tatacara beribadah dan lain sebagainya. Allah sudah membuat scenario kehidupan ini untuk seluruh makhluknya. Dan kalau kita mengaku mencintai Allah, tentu kita akan mengikuti scenario yang telah Allah tetapkan tersebut meskipun terasa berat bagi kita. Sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Itulah yang harus kita camkan.
Allah berfirman:
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahu, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)

Antara Cinta dan Kesuksesan

Ada apa dengan cinta dan apakah cinta dapat menghantarkan kita kepada kesuksesan yang kita inginkan?? Kalau Ya, cinta yang seperti apakah yang dapat menghantarkan kebahagiaan dan kesuksesan tersebut? Sekali lagi jawabnya adalah “Ya…” !!!. Cintalah yang akan mendorong seseorang untuk menjadi seorang pemenang. Cintalah yang akan membawa seseorang kepada kebahagiaan dan kesuksesan. Karena dengan cinta inilah orang akan melakukan apa saja demi orang yang dicinyanya. Ketika seseorang mencintai istrinya, maka dia akan melakukan apa saja demi membahagiakan istrinya, berkorban harta, waktu bahkan jiwa dan raga. Itu semua semata-mata demi istri tercintanya. Begitu juga ketika seseorang sudah mencintai Allah, maka dia akan melakukan semua permintaan-permintaan Allah dengan cara menjalankan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan untuknya. Sehingga dengan kekuatan cinta (the strange of love) inilah seseorang akan dapat menggapai apa yang dia harapkan.

Cinta yang Membawa Kesuksesan

Cinta ibarat dua mata pedang, kalau kita tidak berhati-hati dengannya kita bisa tergores oleh tajamnya pedang tersebut. Dengan cinta pulalah seseorang bisa terjerumus kedalam Neraka, namun dengan cinta pulalah seseorang bisa menikmati damainya hidup di Surga. Cinta seperti apakah yang bisa membawa kesuksesan tersebut???
Bagi seorang muslim kesuksesan tidak hanya sebatas memperoleh kekayaan dan jabatan semata. Namun kesuksesan yang hakiki bagi mereka adalah ketika mereka bisa menggapai keridhoan dan kecintaan Allah.
Allah berfirman:
“Hai orang-oang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih; berimanlah beriman kepada Allah,….” (QS:61:15)
Di dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa jual beli yang paling menguntungkan adalah jual beli dengan Allah, karena dengan berjual beli dengan Allah itulah seseorang akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda yang tidak akan Dia dapatkan jika berjual beli dengan selain Allah. Inilah yang melatar belakangi pemikiran seorang mu’min, bahwa hanya dengan kembali kepada Allah-lah kunci kesuksesan yang hakiki itu bisa diraih. Kunci-kunci kesuksesan yang dapat digunakan tersebut adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Ada tiga hal, apa bila ketiga hal tersebut ada pada diri seseorang maka dia akan dapat merasakan manisnya iman ini; hendaklah Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling dicintai dari pada yang lain, hendaklah seseorang tidak mencintai dan membenci orang lain kecuali hanya karena Allah, hendaklah dia benci untuk menjadi kafir setelah dia beriman”. Dengan ketiga hal inilah seorang muslim bisa merasakan manisnya iman, dan ketika seorang muslim sudah bisa merasakan manisnya iman ini maka kecintaan Allah dan keridhoan-Nya pun akan mereka dapatkan, dan itu berarti kunci kesuksesanpun sudah ditangan mereka.

Cinta yang Membawa Kehinaan.

Dimana ada siang, pasti ada malam. Dimana ada kesuksesan, pasti juga ada kegagalan. Itulah sunatullah yang sudah Allah tetapkan beribu-ribu tahun yang lalu untuk makhluk-makhluk-Nya. Demikian pula dengan “cinta”, selain bisa mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian, cinta juga bisa mendatangkan kesengsaraan dan kesedihan. Cinta bagi sebagian orang adalah kunci bagi kesuksesannya, namun bagi sebagian orang lain cinta justru sebagai awal dari mala petaka bagi dirinya.
Cinta seperti apakah yang akan membawa kehinaan tersebut???
Cinta yang berasal dari hawa nafsulah yang akan menjadikan seseorang hina bahkan lebih hina dari pada binatang ternak. Karena cinta yang berasal dari hana nafsu ini akan menjadikan sang-empunya lalai dan akan melakukan apa saja demi cintanya tersebut. Meskipun mereka memiliki mata, telinga dan hati, namun mata, telinga dan hatinya tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)
Ingatlah…..!!!
“Tarjun najâta walam tasluk masâlikahâ, inna syafînata lam tajri alal yabas” Jika Engkau mengharapkan kesuksesan, maka titilah jalan untuk menuju kesuksesan tersebut. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kapal tidak akan pernah berjalan di atas daratan, akan tetapi kapal akan selalu berlayar di atas lautan.
Wallahu A’lam.