Jumat, 12 September 2008

MUSLIM HAKIKI DALAM PERSPEKTIF ILÂHI

Orang INA Beragama Islam Vs Orang Islam Hidup di INA
Oleh: Husain AM

Kata-kata muslim merupakan suatu kata yang tidak asing lagi bagi kita, bahkan hampir setiap hari kita mendengar kata-kata tersebut terucap dari lisan para Ulama’, cendekiawan muslim, politikus, maupun dari masyarakat pada umumnya yang lengkap dengan atribut dan ciri khas yang melekat padanya. Baik yang bernada positif maupun negative, seperti kaum terorisme, konservatif, fundamentalis, ekstrimis kanan dan lain sebagainya.

Dari stigma-stigma negatif terhadap Islam itulah yang nantinya akan merusak citra Islam dimata kaum muslimin dan orang-orang kafir yang tidak paham akan Islam yang sebenarnya. Kalau kita membaca sekilas tentang judul di atas, mungkin kita akan mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kalimat di atas, sehingga tidak perlu dipermasalahkan karena pada dasarnya mereka sama, yaitu Islam.

Itulah pemikiran dan pendapat masyarakat pada umumnya. Sekilas memang benar apa yang dikatakannya tersebut. Namun kalau kita paham hakikat Islam yang sebenarnya, kita akan medapatkan titik perbedaan yang sangat mendasar (principle) antara orang Islam yang hidup di INA dengan orang INA yang beragama Islam. Dan ke-dua hal tersebut tidaklah sama, bagaikan madu dan racun.

Oleh sebab itu timbulah suatu pertanyaan; Dimanakah letak perbedaannya tersebut, Kalau memang benar-benar berbeda??? Pertanyaan seperti ini akan muncul setiap saat ketika kita mengatakan tidak sama antara OIN (orang INA beragama Islam) dengan OIS (orang Islam hidup di INA).

Untuk mejawab pertanyaan tersebut, harus dipahami terlebih dahulu tentang hakikat Islam. Ibrahim (1985) dalam mu’jamul washit mengatakan kata Islam merupakan bentuk masdar dari kata; aslama-yuslimu-islaaman yang bermakna istislaam yang berarti; berserah diri dan tunduk kepada Allah SWT. Sehingga seorang muslim (Islam) ini akan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya dan menjadikan syari’at-Nya sebagai tuntunan dan pedoman dalam menjalani kehidupan ini.
Dalam hal ini Allah menegaskan dalam surat An-Nisa’: 59.

Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)
Allah juga berfirman:
Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(QS. 33:36)

Dari ke-dua ayat diatas nampak jelaslah perbedaan antara OIN dan OIS. Hal ini dapat dibuktikan dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat kita (-Indonesia-) yang lebih mengedepankan hawa nafsu serta adat dan budaya mereka dari pada syaria’at Islam. Sehingga ketika mereka mendapatkan (-dalam ajaran Islam-) suatu perintah yang bertentangan dengan budaya dan adat mereka. Maka mereka akan memilih budaya warisan nenek moyang mereka dari pada syaria’at Islam yang hanif ini. Padahal Allah telah memperingatkan mereka bahwa kebanyakan dari nenek moyang mereka adalah orang-orang bodoh yang buta akan kebenaran. Dan apabila dikatakan kepada mereka:"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab:"(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk". (QS. 2:170) Selain itu Allah juga menegaskan dalam ayat yang lain: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116) Itulah kenyataannya, mereka akan memilih nenek moyang mereka dari pada Allah, padahal sudah nampak kebodohan dan kesesatan pada diri nenek moyang mereka.

Bodoh memang orang-orang yang lebih memilih nenek moyang mereka atau segala sesuatu selain dari pada Allah dan Rasul-Nya, padahal nampak jelaslah kedamaian dan keselamatan jika kita mau berpegang teguh kepada buhul Allah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara dan jika kalian berpegang teguh kepada ke-daunya maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya; al-qur’an dan sunnah”. (HR Bukhari)

Inilah yang membedakan antara OIN dengan OIS, karena orang Islam yang baik adalah dia akan lebih mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dari pada yang lainnya; tidak terkecuali Orang Tua, Anak-anak mereka atau bahkan Pemimpin-pemimpin mereka. Dan mereka (-OIS-) akan lebih mengedepankan Al-qur’an dan Hadits dari pada aturan-aturan (UU) buatan Thaghut, serta tidak mengharamkan kecuali apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan tidak pula menghalalkan kecuali apa-apa yang dihalalkan oleh Allah.

Katakanlah:"Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupki dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, (QS. 6:162)

Dan seorang muslim yang baik dia akan mengatakan:

Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)

### Wallâhu A’lam Bis Showâb ###

Tidak ada komentar: